dalil-puasa-9-dan-10-muharram.jpg

Panduan Lengkap Puasa 9 & 10 Muharram: Raih Ampunan Dosa Setahun Penuh Lengkap dengan Dalilnya!

Bulan Muharram merupakan salah satu momentum yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia. Atmosfer spiritual di awal tahun baru Islam ini selalu terasa sangat syahdu dan penuh dengan energi positif. Bahkan, di antara sekian banyak amalan sunnah yang bisa kita lakukan, ibadah puasa di bulan Muharram memegang predikat sebagai puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan.

Meskipun terdengar sederhana, ladang pahala terbesar di bulan suci ini sebenarnya mengerucut pada dua hari yang sangat sakral. Dua hari tersebut tidak lain adalah hari Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dan hari Asy-Syura pada tanggal 10 Muharram. Oleh sebab itu, agar ibadah kita hari ini menjadi lebih mantap dan bernilai ibadah yang sah, yuk kita bedah bersama-sama dalil detail serta keutamaannya yang luar biasa!

Baca Juga : Banjir Pahala di Bulan Suci: Ini Dia Amalan Sunnah di Bulan Muharram yang Sayang Banget Kalau Lewat!

1. Keutamaan Utama: Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Langkah pertama yang wajib kita pahami adalah alasan mengapa puasa pada tanggal 10 Muharram (Asy-Syura) ini begitu diburu oleh para pencari pahala. Memang, kita sebagai manusia biasa tidak pernah luput dari kesalahan, khilaf, dan dosa dalam aktivitas sehari-hari. Namun, Allah yang Maha Pemurah sengaja menyediakan hari ini sebagai sarana pembersihan rapor masa lalu kita secara instan.

Mengenai hal ini, Rasulullah secara tegas menyebutkan keutamaannya di dalam sebuah hadis yang sangat sahih. Sebab, beliau bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asy-Syura, aku berharap kepada Allah agar Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Ibadah yang hanya kita lakukan selama belasan jam ini memberikan keuntungan spiritual yang sangat dahsyat. Alhasil, proses pembersihan jiwa ini akan merontokkan rasa cemas di dalam dada, lalu menggantinya dengan ketenangan jiwa yang luar biasa.

2. Alasan Sejarah: Meneladani Rasa Syukur Nabi Musa AS

Selanjutnya, hari Asy-Syura bukan sekadar penanggalan kosong tanpa makna sejarah, melainkan sebuah monumen kemenangan hakiki bagi peradaban iman. Sebab, pada tanggal 10 Muharram inilah Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam dan Bani Israil dari kekejaman pasukan Fir’aun dengan membelah Laut Merah.

Kisah sejarah ini tertuang dengan sangat detail dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari. Ketika Rasulullah SAW baru saja berhijrah dan tiba di kota Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi setempat sedang berpuasa pada hari Asy-Syura. Kemudian, beliau bertanya kepada mereka tentang alasan puasa tersebut. Kaum Yahudi pun menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Nabi Musa pun berpuasa pada hari ini (sebagai bentuk syukur).”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW langsung memberikan respons yang sangat tegas:

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Maka aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari no. 2004)

Saat kita ikut menunaikan puasa Asy-Syura, kita sebenarnya sedang menyambung getaran energi syukur yang murni kepada Sang Pencipta. Bukan hanya itu, ibadah ini melatih mental kita agar selalu optimis, karena kita tahu bahwa pertolongan Allah itu pasti nyata adanya.

3. Alasan Puasa Tanggal 9 Muharram (Tasu’a): Pembeda Identitas Umat

Di sisi lain, muncullah sebuah pertanyaan penting: “Lalu, mengapa kita juga dianjurkan untuk ikut berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a)?” . Ternyata, anjuran ini muncul langsung dari keinginan Rasulullah SAW agar ibadah umat Islam memiliki identitas yang unik dan tidak persis sama dengan ritual kaum Yahudi.

Menjelang akhir hayat beliau, para sahabat sempat menyampaikan kekhawatiran mereka. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asy-Syura itu adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Mendengar masukan tersebut, Rasulullah SAW langsung merancang strategi ibadah untuk tahun berikutnya melalui sabdanya:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Lain kali kalau aku masih hidup sampai tahun depan, benar-benar aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a).” (HR. Muslim no. 1134)

Meskipun beliau wafat sebelum sempat menemui bulan Muharram tahun berikutnya, tetapi para ulama sepakat bahwa puasa tanggal 9 Muharram ini hukumnya tetap sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Sebab, cita-cita dan perkataan Rasulullah sudah menjadi dalil syar’i yang kuat bagi kita untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi.

Kombinasi Sempurna untuk Kesehatan Fisik dan Rohani

Kesimpulannya, menjalankan puasa dua hari berturut-turut pada tanggal 9 dan 10 Muharram adalah sebuah fasilitas self-care rohani yang teramat mewah. Mulai sekarang, jangan lagi memandang puasa sunnah ini sebagai beban ibadah yang memberatkan fisik. Sebaliknya, anggaplah ini sebagai kebutuhan emosional kita untuk beristirahat dan menyucikan batin dari hiruk-pikuk dunia.

Baca Juga : Mengupas Tuntas Makna Hijrah Bagi Pendidik: Catatan Singkat Kajian KARTUNIS Bersama Ustadz Edi Purlani

Secara medis, puasa dua hari berturut-turut seperti ini juga sangat efektif untuk membuang racun di dalam tubuh (detox). Oleh karena itu, mari kita bulatkan tekad dan pasang pengingat di kalender gawai kita sejak hari ini. Sebab, sekecil apa pun usaha nyata yang kamu lakukan untuk menjemput ampunan-Nya, esensinya kamu sedang membuka gerbang keberkahan yang tak terbatas untuk masa depanmu.

Nah, sudahkah kamu menyiapkan niat yang tulus dan menu sahur terbaik untuk menyambut puasa Tasu’a dan Asy-Syura pekan ini? Yuk, ajak keluarga serta sahabatmu untuk sama-sama meraih bonus ampunan dosa ini!