MAGELANG – Momentum pergantian tahun dalam kalender Islam menjadi saat tepat untuk mengevaluasi diri. Menyambut Tahun Baru Hijriyah, Yayasan Ihsanul Fikri kembali menggelar agenda rutin mereka, KARTUNIS (Kajian Rutin Sabtu Manis/ Sabtu Legi) dengan tema Makna Hijrah Bagi Pendidik.



Ratusan jamaah memadati ruang utama Masjid Asy Syifa’ RSI Kota Magelang pada Sabtu (13/6/2026). Jamaah terdiri dari masyarakat umum, wali murid, hingga praktisi pendidikan. Mereka sudah memadati area masjid sejak pukul 13.00 WIB dengan penuh antusiasme.
Pada kesempatan ini, panitia menghadirkan Ustadz H. Edi Purlani, S.Pd. M.Pd. sebagai pembicara utama. Beliau mengupas tuntas konsep hijrah dari sudut pandang teologis dan praktis. Ustadz Edi juga menarik relevansi hijrah ke dalam dunia pendidikan Islam modern.
1. Landasan Teologis dan Tiga Pilar Makna Hakiki Hijrah

Ustadz Edi Purlani mengawali ceramah dengan mengulas sejarah emas Islam. Beliau menceritakan peristiwa migrasi besar-besaran umat Muslim dari Mekkah ke Madinah. Ustadz Edi membuka sesi ini dengan mengutip ayat Al-Qur’an, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 218:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari landasan ayat suci tersebut, Ustadz Edi merinci tiga pilar utama makna hijrah:
- Hijrah Bermula dari Niat: Allah SWT mengukur bobot perubahan dari dalam hati manusia. Kebiasaan baru akan menjadi rutinitas kosong tanpa niat yang lurus karena Allah.
- Hakikat Seorang Muhajirin Sejati: Merujuk pada hadis Rasulullah, seorang Muhajirin harus memiliki tekad kuat. Mereka wajib meninggalkan dan menjauhi segala larangan Allah SWT.
- Hijrah Pasca-Fathu Makkah: Esensi hijrah tidak lantas padam setelah penaklukan kota Mekkah. Baginda Nabi mengajarkan bentuk hijrah baru, yaitu komitmen untuk berjihad di jalan Allah.
2. Menakar Esensi Hijrah Bagi Guru Sekolah Islam Terpadu (SIT)
Ustadz Edi Purlani memberikan sorotan tajam kepada para pendidik di lingkungan Sekolah Islam Terpadu. Tantangan zaman yang kompleks menuntut guru melakukan hijrah profesional dan spiritual. Hijrah tersebut mencakup tiga aspek krusial:

- Pembaharuan Niat Menuju Dakwah Pendidikan: Guru harus meruntuhkan paradigma lama tentang mengajar. Mengajar bukan sekadar profesi bulanan atau transfer ilmu pengetahuan saja. Guru wajib memperbarui niat mereka setiap pagi sebelum melangkah ke sekolah. Mereka harus menjadikan aktivitas mengajar sebagai ibadah agung dan Dakwah Pendidikan.
- Transformasi Pedagogis Meninggalkan Cara Lama: Karakter generasi z dan alfa sudah jauh berubah mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, Ustadz Edi mengajak para guru untuk berhijrah secara metodologis. Pendidik harus meninggalkan metode konvensional yang kaku dan monoton. Guru wajib mengadopsi pendekatan mengajar yang inovatif, kreatif, serta humanis.
- Pengorbanan untuk Menyiapkan Kader Umat: Menjadi guru di sekolah Islam menuntut keikhlasan yang besar. Ustadz Edi menekankan bahwa guru yang berhijrah pasti rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran. Semua pengorbanan ini mengarah pada satu visi besar. Guru harus membimbing siswa agar tumbuh menjadi generasi penerus perjuangan dakwah Islam.
3. Manifestasi Nyata Hijrah dalam Proses Pembelajaran di Kelas
Nasihat Ustadz Edi juga menyentuh panduan praktis di dalam ruang kelas. Beliau menerjemahkan nilai-nilai hijrah melalui tiga langkah taktis:

- Membangun Karakter Melalui Keteladan Sempurna: Mengajarkan akhlak tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan coretan papan tulis. Guru harus mempraktikkan langsung nilai kebaikan tersebut. Guru yang disiplin dan penyayang akan melahirkan murid berkarakter lewat jalur keteladanan (uswah hasanah).
- Perencanaan Pembelajaran yang Matang: Profesionalisme merupakan bagian penting dari syariat. Guru yang baik pasti melakukan persiapan matang sebelum mengajar. Persiapan ini mencakup penguasaan materi, pemilihan metode, strategi mengajar yang menyenangkan, hingga sistem evaluasi yang adil.
- Membentengi Diri dengan Kesabaran: Ruang kelas merupakan medan juang yang sangat dinamis. Guru pasti menghadapi berbagai karakter unik siswa dan tantangan sistem pendidikan. Di sinilah letak ujian hijrah yang sesungguhnya. Guru memerlukan stok kesabaran melimpah agar tidak mudah menyerah.
Mengalirkan Kebaikan Lewat Aksi Nyata Peduli Sesama
Kajian KARTUNIS kali ini terasa semakin lengkap karena memadukan teori dan praktik. Panitia membuka ruang bagi jamaah untuk mempraktikkan langsung esensi kepedulian sosial.
Panitia menyediakan Kotak Infak Spesial di sudut strategis Masjid Asy Syifa’. Ajakan ini mendapat respons luar biasa dari para jamaah. Jamaah menyisihkan rezeki terbaik mereka secara bergantian. Pihak Yayasan Ihsanul Fikri akan menyalurkan seluruh dana terkumpul untuk program Santunan Yatim & Dhuafa dari IFI Peduli.
Baca Juga: Mengubah Niat Baik Menjadi Aksi Nyata
Rangkaian acara KARTUNIS berjalan lancar dan panitia menutupnya dengan doa bersama. Yayasan Ihsanul Fikri berkomitmen menggelar program KARTUNIS ini secara berkala dengan tema-tema solutif lainnya. Sampai jumpa di kajian Sabtu Manis berikutnya! Mari terus bergerak aktif memperbarui niat kita.




