Catatan Mendalam Seminar Pendidikan JSIT Kota Magelang

Menjadi Khairu Ummah: Catatan Mendalam Seminar Pendidikan JSIT Kota Magelang dalam Mengelola Sekolah Unggul

Catatan Mendalam Seminar Pendidikan JSIT Kota Magelang

KOTA MAGELANG – Dunia pendidikan terus bergerak dinamis, menuntut para pendidik untuk tiada henti meng-upgrade diri. Semangat perubahan inilah yang memancar jelas dalam acara Seminar Pendidikan JSIT Kota Magelang yang sukses terlaksana pada Rabu, 24 Juni 2026 kemarin.

Ratusan guru dan kepala sekolah dari berbagai penjuru wilayah kota Magelang tampak memenuhi Gedung EduSmart RSJ Magelang dengan penuh antusias untuk mengupas tema besar “Mengelola Sekolah Unggul”.

Baca Juga : Hadirkan Coach Edris Effendi, Seminar Pendidikan JSIT Kota Magelang Suntik Semangat Baru untuk Kelola Sekolah Unggulan

Pemantik Semangat: Pendidik Melahirkan Khairu Ummah

Untuk memantik semangat sekaligus mengingatkan kembali fondasi utama seorang pendidik, panitia mengawali acara dengan mengajak peserta merenungkan untaian ayat suci Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ…

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Ayat ini menegaskan bahwa mengajar di lingkungan Sekolah Islam Terpadu bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah jalan dakwah mulia untuk mencetak generasi terbaik (khairu ummah).

Moch Edris Effendi saat memberikan materi di Seminar Pendidikan JSIT Kota Magelang

Demi mewujudkan visi besar tersebut, JSIT Kota Magelang sengaja menghadirkan narasumber yang luar biasa. Beliau adalah Moch. Edris Effendi, S.T., M.PSDM, Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur sekaligus pakar pengembangan SDM yang kaya pengalaman.

Sesi 1: Menyelami Lebih Dalam Kode Etik Pendidik

Coach Moch Edris Effendi saat memberikan materi di hadapi ratusan guru di Kota Magelang

Kita tidak akan pernah bisa membangun “Sekolah Unggul” jika pilar utamanya—yaitu para guru—belum memiliki integritas dan standar moral yang kokoh. Oleh karena itu, pada sesi pertama, Coach Edris langsung mengupas tuntas mengenai Kode Etik Pendidik yang wajib melekat dalam diri setiap guru. Sesi ini berlangsung interaktif dan penuh perenungan lewat sepuluh poin utama etika.

Lima Pilar Etika Spiritual dan Profesional Guru

1. Menjaga hubungan baik dengan Allah SWT Ini adalah hulu dari segala etika. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga mengalirkan keberkahan. Hubungan spiritual yang kuat dengan Sang Pencipta akan menumbuhkan keikhlasan, sehingga setiap untaian kata yang keluar dari hati guru akan langsung meresap ke dalam hati siswa.

2. Menjadi teladan yang baik bagi orang lain di mana pun berada Masyarakat mengenal istilah Jawa bahwa guru itu “digugu dan ditiru”. Pendidik harus tetap menjaga keteladanan ini, bahkan saat kaki melangkah keluar dari gerbang sekolah. Baik di pasar, di lingkungan rumah, maupun di media sosial, seorang guru wajib mencerminkan karakter yang anggun.

3. Mengutamakan kepentingan lembaga dibanding pribadi Melahirkan sekolah unggul menuntut kerja tim dan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi. Pendidik yang profesional harus mampu menekan ego pribadi demi kejayaan visi bersama institusi tempatnya mengabdi.

4. Memanfaatkan waktu di sekolah untuk aktivitas yang produktif Waktu adalah aset yang sangat krusial. Beliau mengingatkan para guru agar tidak membuang jam kerja di sekolah untuk hal-hal yang sia-sia. Optimalkan waktu tersebut untuk menyusun modul, mendiskusikan perkembangan siswa, atau merancang inovasi pembelajaran.

5. Meningkatkan kemampuan diri yang mendukung tugasnya Seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Di era digital ini, pendidik harus rajin membaca, mengikuti berbagai pelatihan, dan menguasai metodologi baru agar tetap relevan dengan kebutuhan muridnya.

Lima Pilar Etika Sosial dan Etos Kerja Guru

6. Menggunakan bahasa yang tepat dalam mendidik siswa Kata-kata guru adalah doa dan penentu masa depan murid. Narasumber menggarisbawahi pentingnya memilih bahasa yang santun, memotivasi, menjauhi sarkasme, serta menghindari pelabelan negatif (labeling) pada anak.

7. Peduli terhadap sikap dan hasil belajar semua siswanya Prinsip keadilan dalam mendidik berarti guru tidak boleh hanya condong pada siswa yang pintar secara akademik. Guru yang hebat justru menaruh empati besar pada siswa yang berproses lambat, lalu merangkul mereka dengan kasih sayang yang sama rata.

8. Menjaga penampilan diri yang rapi, bersih, syar’i, dan pantas Gaya visual seorang guru ikut menentukan wibawanya di depan kelas. Penampilan yang bersih dan sesuai syariat tidak hanya membuat nyaman dipandang, tetapi juga menjadi contoh nyata tentang kebersihan bagi anak didik.

9. Menjauhi hal-hal yang kurang patut sebagai pendidik Seorang guru wajib menjaga muruah atau kehormatan diri sebagai harga mati. Guru harus sadar penuh untuk menghindari segala tindakan yang berpotensi mencoreng nama baik profesi pendidik, sekecil apa pun itu.

10. Menolak tidur di jam kerja kecuali sedang sakit Poin penutup ini terdengar sederhana namun sangat menohok. Ini merupakan cerminan dari komitmen, etos kerja, dan profesionalisme tingkat tinggi dalam menghargai amanah serta tanggung jawab dari orang tua murid.

Sesi 2: Seni Berkomunikasi dan Strategi Menghadapi Komplain

Memasuki sesi kedua, suasana seminar terasa semakin hidup saat membahas keterampilan praktis di lapangan, yaitu Keterampilan Berkomunikasi. Pak Edris menegaskan bahwa komunikasi yang efektif bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan guru, siswa, dan orang tua. Jika jembatan ini kokoh, sinergi pendidikan akan berjalan dengan sangat harmonis.

Melatih Respons Lewat Fast Thinking

Beliau juga mengingatkan pentingnya melatih kemampuan berpikir cepat (fast thinking) yang sering kali luput dari perhatian. Dengan berpikir cepat, guru bisa langsung memberikan respons yang tepat saat menjadi rujukan utama siswa. Guru pun akan lebih mahir dalam memberikan nasihat yang jelas, serta mampu menjawab pertanyaan kritis dari orang tua lewat argumentasi yang logis, santun, dan mudah dipahami.

Tiga Langkah Taktis Active Listening

Selanjutnya, materi mengerucut pada teknik Mendengar secara Aktif (Active Listening) untuk menghadapi komplain atau keluhan orang tua murid. Pak Edris membagikan tiga langkah taktis yang bisa segera guru praktikkan di sekolah:

  1. Tunjukkan Bahwa Kita Memperhatikan: Saat orang tua atau siswa berbicara, arahkan fokus dan perhatian kita seutuhnya. Tatap mata lawan bicara, condongkan posisi tubuh dengan santai, mengangguklah, atau berikan senyuman. Jangan membungkuk atau melipat lengan di dada karena gestur tersebut memberi kesan defensif atau menutup diri. Postur yang terbuka akan membuat lawan bicara merasa dihargai dan membantu menurunkan emosi mereka.
  2. Parafrase Poin yang Disampaikan: Teknik ini sangat ampuh untuk menyamakan persepsi sekaligus meredam konflik. Sebelum menyodorkan solusi, ulangi kembali inti keluhan mereka menggunakan bahasa kita sendiri. Contohnya: “Jadi, Bunda merasa bahwa Ananda selama ini mengalami kendala belajar karena pengaruh teman mainnya di kelas, ya?” Lewat parafrase ini, orang tua akan menangkap kesan bahwa kita benar-benar mendengarkan dan memahami masalahnya secara utuh.
  3. Menunggu Giliran Berbicara: Kunci utama menghadapi komplain adalah menahan diri untuk tidak menyela pembicaraan. Berikan ruang seluas-luasnya sampai orang tua selesai menumpahkan seluruh keluh kesahnya. Begitu situasi mulai tenang dan mereka selesai berbicara, barulah kita masuk untuk menyampaikan pandangan dan solusi terbaik dengan kepala dingin.

Baca Juga : Nakhoda Baru, Semangat Baru! Selamat Mengemban Amanah Pimpinan dan Kepala Unit Baru Yayasan Ihsanul Fikri Periode 2026–2030

Antusiasme Pendidik Menuju Sekolah Unggul

Panitia mengakhiri acara yang berlangsung hingga sore hari ini dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Para peserta berebut mengonsultasikan studi kasus nyata di sekolah masing-masing, yang langsung mendapat jawaban berupa tips praktis dari narasumber.

Lewat agenda seminar ini, JSIT Indonesia Daerah Kota Magelang berharap seluruh sekolah anggota mampu bertransformasi menjadi sekolah unggul. Sekolah yang tidak hanya kuat dari sisi manajemen, tetapi juga melahirkan pendidik-pendidik berkarakter yang mendapat tempat di hati murid dan masyarakat