Larangan mendekati tempat shalat id ketika mampu tapi tidak berqurban

Pesan Menohok dari Rasulullah: Saat Mampu Berqurban tapi Memilih Absen

Menjelang Hari Raya Idul Adha, sebagian besar dari kita mungkin mulai sibuk menyusun rencana anggaran. Kita menimbang-nimbang harga kambing, atau mulai patungan untuk membeli sapi. Namun, di tengah persiapan tersebut, mari kita sejenak merenungkan sebuah pesan menohok dari Rasulullah yang terekam dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah.

Ustad Faisal Tri Atmaja, A.Md. (Pengasuh Pesantren Modern Ihsanul Fikri Kota Magelang) melalui poster edukasinya mengingatkan kita pada sebuah hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا.

“Barangsiapa memiliki kelapanan (mampu), tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123, dishahihkan sebagian ulama).

Hadis ini bukan sekadar anjuran biasa. Kalimat “janganlah ia mendekati tempat shalat kami” menjadi sebuah teguran keras sekaligus “sindiran” langsung dari Nabi bagi mereka yang memiliki kelonggaran harta, tetapi memilih untuk absen dari ibadah qurban

Baca Juga : Niatnya Ibadah, Tapi Kok Malah Skip Sunnahnya?

1. Memahami Arti “Kelapangan” di Era Modern

Bagaimana kita mengartikan kata “mampu” atau “memiliki kelapangan” dalam konteks hari ini? Banyak orang merasa belum mampu berqurban karena selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang jauh lebih kaya. Padahal, para ulama menjelaskan parameter “mampu” dengan sangat sederhana: yaitu ketika seseorang memiliki kelebihan harta untuk membeli hewan qurban setelah ia memenuhi semua kebutuhan pokok keluarga dan utang jatuh temponya pada hari raya dan hari tasyrik.

Coba kita mengevaluasi diri secara jujur. Jika kita sanggup membeli gadget terbaru, mencicil kendaraan, atau menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk kopi kekinian setiap bulannya, maka secara logis kita masuk dalam kategori “mampu” yang Rasulullah maksud. Masalahnya sering kali bukan pada ketiadaan dana, melainkan pada skala prioritas di dalam hati kita.

2. Mengapa Rasulullah Memberikan Teguran yang Begitu Keras?

Larangan mendekati tempat shalat id menunjukkan betapa urgennya ibadah qurban ini dalam membangun solidaritas sosial. Islam adalah agama yang menyeimbangkan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Larangan mendekati tempat shalat id ketika mampu tapi tidak berqurban

Ketika orang-orang mampu enggan berqurban, mereka sedang memutuskan rantai kebahagiaan para fakir miskin yang mungkin hanya bisa menikmati daging satu kali dalam setahun. Mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW tetapi tidak mempedulikan syi’ar dan kesejahteraan sosial di sekitarnya adalah sebuah kontradiksi yang mendalam. Oleh karena itu, Rasulullah memberikan batasan yang tegas agar kita tidak meremehkan momentum setahun sekali ini.

3. Qurban adalah Manifestasi Rasa Syukur yang Aktif

Allah tidak menitipkan rezeki ke dompet kita untuk kita miliki sepenuhnya. Di dalamnya ada hak orang lain yang Allah titipkan melalui usaha kita. Berqurban menjadi cara kita membersihkan harta sekaligus membuktikan rasa syukur secara aktif, bukan sekadar ucapan di lisan.

Saat membeli hewan qurban, kita sedang menggerakkan roda ekonomi para peternak lokal. Saat membagikan dagingnya, kita sedang menghadirkan senyuman di dapur-dapur tetangga yang membutuhkan. Ini adalah siklus kebaikan yang menghidupkan ekosistem masyarakat yang harmonis.

Luruskan Niat, Jemput Keberkahan

Kutipan hadis dari Ustad Faisal Tri Atmaja ini harus menjadi cermin bagi kita untuk membedah kondisi hati masing-masing. Idul Adha bukan sekadar tentang libur panjang atau bakar-bakar sate bersama keluarga. Lebih dari itu, momentum ini menguji pembuktian cinta kita kepada Sang Pencipta dan kepedulian kita kepada sesama manusia.

Jika hari ini Anda menyadari bahwa Anda memiliki kelapangan tersebut, jangan tunda lagi. Amankan hewan qurban Anda sekarang juga. Jangan sampai kita menjadi golongan orang yang merugi—yang menggenggam harta di dunia, namun menerima “pengusiran” dari kedekatan spiritual bersama Rasulullah di hari raya.

Baca Juga : Pembekalan Panitia Idul Adha Yayasan Ihsanul Fikri

Sudahkah Anda mengalokasikan rezeki Anda untuk qurban tahun ini? Mari bersiap menyambut Idul Adha dengan jiwa yang dermawan!

BELUM TERLAMBAT, YUK QURBAN BERSAMA IHSANUL FIKRI